Sholichul Hudha
Saya lahir pada tanggal 28 April 1992 di Desa Wonorejo, Kabupaten Jepara, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia. Saya anak ketiga dari tiga bersodara. Kakak pertama saya seorang perempuan, Namanya Solikatin dan Kakak kedua saya seorang laki-laki, Namanya Ali Mashadi. Kami sangat sayang kepada kedua orang tua kami. Martono nama ayah kami dan Siti Suwaidah nama ibu kami. Pekerjaan ayah petani dan ibu pedagang sayur keliling. Masa sulit kami adalah masa-masa di saat kami masih kecil, hidup di rumah adat jawa yang sangat sederhana, Rumah yang memiliki dinding dari kayu beserta susunan bambu dan lantai yang beralaskan tanah. Tapi sekarang sudah banyak perubahan menuju perubahan yang lebih baik. Dari masa sulit menuju ke masa sederhana. Dan kami sangat bersyukur atas perubahan yang Allah SWT berikan kepada keluarga kami.
Waktu masih kecil, antara umur 4 thn sampai lulus SD, saya memiliki pribadi yang keras kepala dan susah di atur. Yahhh bisa di bilang nakal dan bandel. Sering berkelahi dengan teman sekolah dan teman bermain. Penyebabnya adalah ketika saya atau teman saya di jailin anak dari kelas lain, dan juga ketika teman saya di jailin anak dari desa lain atau dari RT sebelah. Di situasi seperti itu saya sangat tidak nyaman dan selalu ingin memberi pelajaran dan hukuman fisik kepada anak yang suka berbuat jahat, jail dan nakal. Dan sifat ini terbawa sampai ke tahap SMP. Membuat saya memiliki pribadi yang baik hati, suka menolong dan suka menegakkan keadilan tapi dengan cara tegas dan keras dalam mengambil tindakan.
Masa-masa SMP saya, tidak ada perubahan sifat pada diri saya. Masih sama seperti masa-masa SD. Hanya saja lebih fokus pada pembentukan fisik yang lebih kuat dan sehat supaya saya memiliki potensi peluang besar menang pada saat berkelahi. Dan alhamdulillah sampai sekarang belum pernah kalah dan terluka pada saat berkelahi. Di situ saya merasa heran. Yahhh mungkin karna sejauh ini saya berkelahi di jalan kebenaran.
Oh iya, Pelajar di daerah saya masih banyak lelaki sejati, Jadi gaya berkelahinya tidak keroyokan dan tidak memakai senjata tajam. Karena di mata kami, Berkelahi memakai senjata dan keroyokan itu sangatlah hina.
Yang berkelahipun yang punya masalah saja, teman-teman lain hanya menonton dan melerai jika salah satu dari mereka sudah menyerah atau tak berdaya. Makanya di daerah kami jarang sekali terjadi tawuran antar pelajar. Di sisih lain, ikatan pertemanannya juga sangat erat. Di sini, Berkelahi itu tanpa ada niyat membunuh, berkelahi hanya untuk memberi pelajaran. Selesai berkelahipun kita berdamai dan bersalaman. Hanya saja yang kalah harus lebih menghargai, menghormati dan lebih sopan kepada yang menang. Kadang yang menangpun tidak mau di hormati dan di hargai. Tapi dia mintanya saling menghormati dan saling menghargai saja. Tapi ini sangat jarang terjadi sih,.
Oh iya, Pelajar di daerah saya masih banyak lelaki sejati, Jadi gaya berkelahinya tidak keroyokan dan tidak memakai senjata tajam. Karena di mata kami, Berkelahi memakai senjata dan keroyokan itu sangatlah hina.
Yang berkelahipun yang punya masalah saja, teman-teman lain hanya menonton dan melerai jika salah satu dari mereka sudah menyerah atau tak berdaya. Makanya di daerah kami jarang sekali terjadi tawuran antar pelajar. Di sisih lain, ikatan pertemanannya juga sangat erat. Di sini, Berkelahi itu tanpa ada niyat membunuh, berkelahi hanya untuk memberi pelajaran. Selesai berkelahipun kita berdamai dan bersalaman. Hanya saja yang kalah harus lebih menghargai, menghormati dan lebih sopan kepada yang menang. Kadang yang menangpun tidak mau di hormati dan di hargai. Tapi dia mintanya saling menghormati dan saling menghargai saja. Tapi ini sangat jarang terjadi sih,.
Dilihat dari sudut pandang agama, dari SD sampai SMP saya tergolong anak yang rajin beribadah "Adzan, Sholat dan baca Al Quran". Mulai menginjak SMA keimanan saya mulai goyang, Hal ini di sebabkan pemikiran dan pendalaman saya tentang ilmu sejarah dan ilmu geografi membuat saya memiliki cara pandang yang berbeda. Di tambah datangnya sebuah prinsip baru dalam hidup saya. Yaitu otak saya hanya menerima hal-hal yang sifatnya nyata saja. Sangking fatalnya, waktu itu saya tidak percaya 100% akan adanya Allah, surga dan neraka. Bahkan sampai menemukan sebuah teori awal mula adanya tuhan. Mulai dari situ aku selalu berusaha mencari bukti akan keberadaan Allah. Bertahun-tahun aku mencari, selalu kegagalan yang aku dapatkan. Sampai pada akhirnya aku pun mulai putus asa dan menghentikan proses pencarian tersebut. Bingung dan galau tingkat tinggi. Karna sejauh ini belum ada agama lain atau tuhan lain yang bisa menggantikan Islam dan Allah di hati saya. Di sisi lain saya masih meragukan keberadaan Allah, surga dan neraka.
Dan akhirnya saya melihat dua sosok ahli ruqyah yang cukup terkenal di sosial media. Melalui video-video ruqyah beliau, pelan-pelan cara pandang saya mulai berubah. Dan pelan-pelan juga saya mulai kembali ke jalan Allah. Sekarang saya sadar bahwa selama ini saya dalam pengaruh iblis dan setan. Atau lebih tepatnya iblis yang kesetanan.
Lambat laut hati mulai terang, tentram dan damai. Karena saya sudah mulai sholat lagi, setelah sekian lama tidak pernah sholat. Kurang lebih 10 thn. yahhh walau belum bisa full 5 waktu, tapi saya tetap bersyukur. Dan sekarang saya sudah ada istri yang selalu memberi saya semangat dan doa. Supaya saya tidak masuk lagi ke dalam jebakan setan-setan yang terkutuk. Semoga kedepannya bisa lebih baik di mata Allah. Amin...
Buat sodara-sodaraku yang sudah baca, Jika kamu punya problem yang sama, Mari kita berkomunikasi, Siapa tau saya bisa membantu. InsyaAllah,
Tlp/WA: 082213987456
Youtobe Channel: Sholichul Hudha


Tidak ada komentar:
Posting Komentar